Komplek Pesanggrahan Hutan Larangan Bulupitu Desa Tanjungseto Kutowinangun Kabupaten Kebumen

Komplek Pesanggrahan Hutan Larangan Bulupitu Desa Tanjungseto Kutowinangun Kabupaten Kebumen

Pada kunjungan silaturahmi ke Kabupaten Kebumen (04/03/2017), bersama Holid Anwar, penggiat Desa sekaligus pelaku Budaya Penginyongan Banyumasan Jawa Tengah, kami mencoba menelusuri lokawisata cagar budaya dan hutan edukasi  Bulupitu yang berada di Desa  Tunjungseto Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen. “Ngrogoh Rasa, Rahsa tur Rumangsa” melatih kepekaan indera, mengolah jiwa dan merefleksi kedalaman pengetahuan, kurang lebih itulah yang dimaknai dengan phrase “Rasa-Rahsa-Rumangsa”.

Lokawisata Bulupitu merupakan kawasan Hutan Larangan Desa seluas 3.5 ha yang memiliki koleksi tanaman langka dan berumur ratusan tahun, salah satunya adalah pohon bulu (Fiscus Annulata) yang tumbuh dikawasan hutan tersebut dan hanya berjumlah sebanyak 7 pohon, hal tersebut yang melatarbelakangi nama tempat Pesanggrahan Bulupitu, tetapi di versi lainnya yang melatar belakangi nama yaitu bahwa Bulupitu itu adalah pohon yang memiliki 7 cabang dan berbulu, entah versi mana yang benar, tentunya perlu penelitian lebih mendalam.

Kawasan hutan larangan Bulupitu  juga sebagai laboratorium Fakultas Kehutanan UGM didalamnya terdapat beberapa jenis Pohon besar dan eksotis dan sudah berusia ratusan tahun yang sengaja dilestarikan, dikembangkan dan di lindungi sebagai lokawisata edukasi, pohon yang ada dikawasan hutan ini terdiri dari seperti Pohon Bulu (Fiscus Annulata), Rao (Dragon Tomelon) , Manggisan (Garcinia) dan Kenari Lugut (Canarium).

Ditengah kawasan hutan larangan Bulupitu terdapat pesanggrahan yang dijadikan sebagai tempat ziarah budaya, karena tempat ini memiliki nilai sejarah, dan beberapa kalangan mempercayai tempat ini memiliki kekuatan mistis untuk mengabulkan permintaan dengan cara melakukan tirakat sesuai diyakininya. Dikomplek Pesanggrahan atau petilasan Bulupitu terdapat juru kunci, yang bertugas memandu dan menjaga kelestarian lingkungan huitan larangan serta memimpin ziarah. pejiarah yang berkunjung berasal dari beberapa tempat baik dalam kabupaten Kebumen atau di kabupaten dan propinsi lainnya.

bulupitu4 bulupitu5

Lokawisata Bulupitu merupakan bagian kisah sejarah Kabupaten Kebumen, Alkisah seorang anak yang bernama Jaka Sangkrib menderita penyakit korengan, hingga dibuang ke hutan Bulupitu, bertahun-tahun melakukan tapa brata di Hutan Bulupitu yang sebenarnya adalah kraton para makhluk halus, hingga akhirnya Joko Sangkrib  bertemu Nawang Wulan, yang merupakan bangsa Roh Halus yang diceritakan kemudian atas petunjuk Nawang Wulan, Joko Sangkrib sembuh dari penyakit korengan setelah mandi disendang yang ditunjukan Nawang Wulan, hingga saat ini sendangnya masih ada dan terpelihara. Diceritakan pada akhirnya Nawang Wulan diperistri oleh Joko Sangkrib dan buah perkawinannya dikaruniai tiga anak yakni Raden Bagus Klantung, Raden Bagus Cemeti dan Raden Ayu Isbandiyah.

Diceritakan selanjutnyaIsbandiyah salahsatu anak Joko Sangkrib kemudian bersemayam di sendang tempat bekas tempat petilasan Jaka Sangkrib. Menurut Ki Rencani (juru kunci terdahulu) menyebut sendang petilasan Joko Sangkrib sebagai Belik Kuwarasan karena mampu menyembuhkan penyakit kulit. Hingga sendang ini lebih dikenal dengan nama Sendang Arum karena keluar aroma harum dari sendang tersebut. ”Sendang Arum” memiliki nilai sejarah yang tinggi, yg harus diketahui masyarakat kebumen, demikian tutur Holid Anwar.

Untuk memasuki komplek keraton suci Bulupitu, kita perlu berjalan naik menyusuri jalan kepunden yang jumlahnya kurang lebih 500 tangga, dan di sepanjang jalan banyak sekali papan-papan yang bertuliskan larangan, seperti dilarang mencorat-coret dinding kraton, dilarang berteriak keras-keras, dilarang mengambil foto sembarangan, dll. Tak sembarang orang boleh masuk kraton tersebut, hanya orang yang memiliki kepentingan yang boleh memasuki kraton tersebut.

Dalam rangka mengembangkan kawasan ini memberikan menfaat dan kesejahteraan masyarakat Desa, kini pada kawasan hutan larangan Bulupitu disediakan tempat untuk arena perkemahan dan untuk kegiatan outbond sekaligus wisata edukasi tanaman hutan. Diluar hutan disediakan tempat camping ground dan pendopo pertemuan untuk kegiatan penyuluhan, pendidikan para pelajar yang mengikuti eduwisata. Jalan masuk ke kawasan Bulupito serta bangunan pendopo, sekretariat eduwisata dibangun dengan dukungan program MP3KI  (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia) program pembangunan bersifat kawasan perdesaan yang memerankan BKAD (Badan Kerjasama Antar Desa) sebagai aktornya.

Holid Anwar menjelaskan Kawasan Bulupitu bisa dikembangkan sesuai konsep MP3KI yang bersifat pembangunan kawasan dengan melibatkan tiga kecamatan yaitu Desa Poncowarno Kecamatan Poncowarno, Desa Argopeni Kecamatan Kebumen dan Desa Tanjungseto Kecamatan Kutowinangun .

Lokasi di dalam Pesanggrahan Bulupitu

Lokasi di dalam Pesanggrahan Bulupitu

Bersama Holid Anwar Penggiat Budaya dan Penggiat Desa Kabupaten Kebumen

Bersama Holid Anwar Penggiat Budaya dan Penggiat Desa Kabupaten Kebumen

 

%d blogger menyukai ini: