yossy-suparyo-anggota-pokja-desa-kementeriaan-desa

Penerapan Undang-Undang Desa harus disambut dengan gembira. Semestinya desa optimis pada datangnya perubahan kebijakan itu. Beragam kendala pasti ada, namun rasa gembira akan mendorong desa melahirkan kreativitas.

Demikian pendapat Anggota Kelompok Kerja Masyarakat Sipil (Pokja Desa), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Yossy Suparyo (38) , dalam workshop sehari Pengembangan Sistem Informasi Pendamping Desa di Ruang Rapat Konsultan Nasional Pengembangan Program (KNPP) di kawasan Perumahan Kejaksaan Agung, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (2/11).

“UU Desa membawa angin perubahan ke arah yang lebih baik. Semua tantangan pasti ada jalan keluarnya,” ujarnya.

Dalam urusan pendampingan desa, Yossy berpendapat keberadaan Pendamping Desa memperkuat semangat UU No 6 tahun 2014 itu. Karena itu, Kementerian Desa mendukung keterlibatan beragam kalangan dalam kerja pendampingan dan pemberdayaan desa.

BACA JUGA: KNPP Rumuskan Sistem Informasi Pendamping Desa

Pengembangan sistem informasi pendamping desa menjadi kebutuhan penting. Menurutnya, ada tiga hal yang musti diperhatikan untuk merumuskan pengembangan sistem.

Pertama, sistem harus menjawab kebutuhan atas bahan bacaan dan peningkatan kapasitas pendamping secara terus-menerus. Pendamping Desa dapat mencari referensi yang tepat saat menghadapi tantangan-tantangan di lapangan. Kemudahan akses pada sumber referensi mendorong pendamping desa senantiasa belajar pada hal-hal baru.

Kedua, sistem akan menjadi kanal publik yang menunjukkan kinerja pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Pendamping desa bisa memamerkan prestasi desa dampingannya, potensi/produk unggulan desa, termasuk inisiatif cerdas mereka dalam penyelesaian masalah.

Ketiga, ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman antar pendamping desa. Pola belajar hadap masalah melahirkan tradisi pendidikan yang dialogis. Mereka dapat berbagi gagasan dan pengalaman supaya antar pendamping desa dapat saling menguatkan dan berdaya.

Lebih lanjut, pria asal Cilacap itu, menyarankan sistem informasi pendamping desa juga harus dikelola secara kolektif. Energi orang banyak (crowdsourcing) akan menjadi kekuatan baru dalam percepatan pembangunan desa.

%d blogger menyukai ini: