Inda Pattinaware Direktur Executif Sawit Watch dalam seminar Women Enpowerment

Inda Pattinaware Direktur Executif Sawit Watch dalam seminar Women Empowerment

Ditengah hangatnya women empowerment sebagai cross cutting issue di IORA Summit 2017, Sawit Watch  yang di nakodai seorang perempuan cantik nan tangguh, mengingatkan kita semua bagaimana pekerja perempuan di area perkebunan sawit.

Berikut adalah kultweet Sawit Watch yang merupakan catatan penting tentang kondisi perempuan di perkebunan kelapa sawit sekaligus bahan artikel yang akan dibuat Sawit Watch menyambut International Women’s Day yang jatuh tanggal 8 Maret 2017.

Artikel yang dibuat berjudul “Ketika Perkebunan Sawit Merampas Kehidupan Perempuan”

Sejak tahun 2000, luas perkebunan sawit semakin meningkat. Pmbukaan perkebunan sawit secara massif dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Saat ini Indonesia memiliki 15,9 juta ha perkebunan kelapa sawit, dengan rencana ekspansi mencapai sekitar sekitar 20 juta hektar lahan, yang telah dialokasikan  tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Masifnya ekspansi perkebunan sawit didukung oleh 2 (dua) faktor utama, upah buruh dan sewa lahan yang murah. Sisi lain, Pemerintah Indonsia terus memberikn fasilitas penunjang seperti peraturan perundangan yang menarik, pinjamn lunak, land amnesty dan insentif fiskal.

Industri sawit mnjadi komoditas andalan, hal ini terbukti dari produk turunan sawit yang mmberikan kontribusi ekspor 75% dari sektor non migas. Diluar itu, kehadiran perkebunan kelapa sawit menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Cerita sukses Indonesia sebagai produsen terbesar sawit dunia tidak diikuti oleh kisah sukses yang sama untuk masyarakat lokal, masyarakat adat dan buruh.  Malah, pengembangan dan perluasan perkebunan berdasarkan sistem saat ini menyebabkan pemiskinan, pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan dan konflik  terkait lahan.

Ekspansi perkebunan sawit telah menimbulkan banyak implikasi, terutama potensi terjadinya realokasi besar-besaran peruntukan lahan & sumberdaya.

Selain akan mnimbulkan perubahan bentang alam, ekspansi perkebunan skala besar juga menimbulkan perubahan struktur perekonomian lokal dan regional. Perubahan sumber penghidupan masyarakat lokal, terutama komunitas lokal dan adat yang selama ini tergantung pada hutan.

Proses ekspansi juga telah mengakibatkan munculnya berbagai konflik sosial, terutama yang berkaitan dengan konflik lahan.  Perampasan tanah, kehadiran investasi yang membutuhkan tanah skala luas memicu perubahan kontrol atas tanah.

Kehadiran perkebunan memperoleh dukungan besar dari negara. Kekuasaan yg timpang menyebabkan satu pihak (masyarakat) harus kehilangan akses terhadap sumber daya.

Perampasan lahan oleh korporasi sawit dan kehadiran perkebunan sawit sangat jelas berdampak pada hilangnya basis produksi perempuan dan mengubah kaum perempuan dari produsen pangan menjadi pembeli pangan atau menjadi tenaga upahan yang dibayar murah.

Pola hidup dan kebiasaan-kebiasaan  sebagai produsen pangan terdistorsi  menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, yakni tempat kerja.  Perempuan yg menjadi tenaga upahan harus menyesuaikn diri dengan standar rutinitas, pola kerja, mekanisme kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan perkebunan.

Inda Fatinaware, Direktur Eksekutif Sawit Watch mengatakan perempuan yang bekerja di perkebunan sawit seringkali dianggap tidak ada, padahal proses produksi sangat dipengaruhi oleh keberadaan perempuan yang bertugas menyemprot atau membantu panen. Perempuan tidak dianggap sebagai buruh perusahaan, sehingga tidak mendapatkan hak-hak yang selayaknya didapatkan.

Perjuangan Sawit Watch mendampingi, mengadvokasi, memperkuat kapasitas masyarakat dan perempuan, sudah seharusnya dielaborasikan dengan kerja-kerja Pendamping Desa, untuk menegakan daulat rakyat atas kehidupan dan penghidupannya.  Sukses Sawit Watch Sukses Inda Pattinaware.

Sumber : Kultweet @SawitWatch

 

STJ

%d blogger menyukai ini: