fb_img_14811844072927975

Warga Desa Ngadi, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual, Maluku memasang pipa air bersih di desa setempat. (Foto: Usman Rauf)

“Air Sumber Kehidupan”. Demikian yang selalu kita dengar. Kebutuhan akan air bersih terasa sama pentingnya seperti udara yang kita hirup. Itu juga yang dirasakan warga di Desa Ngadi, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual, Propinsi Maluku. Sehari-hari, sebagian besar warga Desa Ngadi menempuh jarak 500 meter untuk mengambil air bersih.

Dibandingkan dengan wilayah lain, 500 meter bukan jarak yang terlampau jauh untuk mendapatkan air bersih. Masih banyak warga desa di wilayah lain dalam negara ini yang harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air bersih. Kita tentunya tak lupa dengan sebuah jargon “sumber air su dekat”. Kegiatan penyediaan air bersih bagi warga menjadi booming di mana-mana salah satunya mungkin karena jargon ini.

Dulu di Desa Ngadi pun ada program penyediaan air bersih sebagai bentuk tanggung jawab sosial (CSR) dari salah satu perusahaan yang berdiri tak jauh dari desa itu. Namun, sudah empat tahun ini, program pipanisasi tersebut terhenti. Pipa sudah banyak yang rusak sehingga sumber air pun tak lagi dekat.

Air bersih menjadi barang langka di sini, karena rumah penduduk hanya berjarak 20 meter sampai 30 meter dari bibir pantai. Warga Desa Ngadi yang mampu, dapat membeli air bersih lewat “oto air”; mobil tangki yang menjajakan air bersih yang layak konsumsi. Namun, bagi mereka yang tak mampu, harus kembali menempuh jarak kurang lebi satu kilo meter dengan turun naik tangga melintasi bukit kecil untuk mengangkut air bersih dari sumur ke rumahnya.

Melihat hal ini, maka Pemerintah Desa bersama warga Desa Ngadi memutuskan Dana Desa di tahun 2016 ini digunakan juga untuk membiayai program pipanisasi ketersediaan air bersih. Uang, ruang, dan orang adalah tiga hal yang saling berkait dalam terselenggaranya sebuah program yang baik. Dengan anggaran sebesar Rp.112.200.500, warga Desa Ngadi diberi kesempatan untuk bekerja aktif membangun desanya sesuai dengan kebutuhan dan memanfaatkan potensi alam yang ada.

Di akhir Oktober 2016, kegiatan ini berproses. Bak dari beton dibangun untuk menampung air yang dipompa mesin dari sumber air di bawah bukit. Setelah melewati pipa dari bawah bukit naik dan tertampung dalam sebuah bak, air bersih dari bawah kaki bukit dapat sampai ke rumah penduduk. Dan sumber air pun su dekat skali..!

Usman Rauf, TAU Pengembangan Ekonomi Lokal

%d blogger menyukai ini: