Dari NN

Karena revolusi mulai dari dapur, dari apa yang kamu makan, dan dari para petani yang menanam, mengelolanya!

Berada di desa dan bersama para perempuan desa yang tidak ragu membuat perubahan penting yang mempengaruhi masyarakat desa, adalah catatan kebahagiaan saya setiap hari. Hari ini berbagi kebahagiaan dengan satu dari banyak inisiatif yang sudah dikembangkan ibu-ibu di desa. Pasar Desa.

Ide pasar desa dikembangkan oleh ibu-ibu sekolah perempuan untuk menjawab kebutuhan, dan fenomena pembelian bahan makanan yang mulai dimonopoli oleh sekelompok / individu pemodal. Setelah mengikuti serangkaian workshop dan training UU Desa dan mengikutikelas sekolah perempuan khususnya dalam kurikulum ekonomi solidaritas, ibu-ibu mengembangkan prinsip mempertahankan peredaran uang di dalam desa dan membawa uang dari luar masuk ke dalam desa. Tentu dengan adil. Dalam konteks masyarakat pertanian / perkebunan dan nelayan, ibu-ibu menganalisis fakta monopoli sumber daya alam yang sebenarnya sumbernya dari para petani, para nelayan, para perempuan. Termasuk hadirnya beragam iklan yang menawarkan kemudahan ( misalnya soal memasak ) yang sejatinya menjauhkan alam. Tanpa berbicara teori kapitalisme atau globalisasi , para ibu menginisiasi membuat pasar desa.

Oh, jangan bayangkan pasar yang dimaksudkan adalah pasar yang membutuhkan gedung seharga milyaran, atau pembukaannya dilakukan dengan pita yang digunting. Pasar desa, bagi para perempuan adalah pasar dimana ekonomi solidaritas mendapatkan maknanya. Mendapatkan nilai ekonomi dengan menghargai alam dimana sumber daya alam dikelola. Sayuran, buah, rempah dan berbagai hasil bumi lain yang ditanam di kebun dan di halaman menjadi modal utama pasar desa. Mereka tidak menanam dalam jumlah yang banyak sehingga harus menggunakan pupuk kimia untuk mempercepat perkembangannya. Para perempuan yang berasal dari berbagai latar belakang agama, dan suku ini menanam secukupnya. Awalnya, menanam secukupnya untuk kebutuhan rumah tangga, lalu menanam untuk kebutuhan masyarakat di desa-nya, kemudian berkembang untuk desa-desa di sekitarnya. Mereka menanam dengan memberikan rasa percaya pada tanah yang dapat menghasilkan hasil bumi yang melimpah tanpa mereka mengkhianatinya ( antara lain dengan pupuk ).

Sayur kangkung, daun ubi, daun pepaya, pisang, pepaya, ketela ubi, selada air, rempah-rempah, jahe adalah sebagian dari bahan makanan yang pagi hari itu berjejer di atas meja sederhana di jalan Desa Salukaia. Meja sepanjang 2 meter penuh dengan beragam hasil bumi. Meja ini diangkat bersama dengan Kepala Desa dari halaman rumah ke tepi jalan Desa Salukai. Hari Sabtu, 8 April, saya berkesempatan melihat ( dan membeli tentunya 😉 ) pasar desa yang dibuka pertama kali di Desa Salukaia oleh ibu-ibu sekolah perempuan.

Terdapat sekurangnya 20 ibu-ibu Muslim , Kristen , Hindu silih berganti dengan antusias membawa sayur, buah, kue dari rumah mereka. Pagi hari ketika pertama kali mengumpulkan hasil bumi, ada semacam rasa tidak percaya diri “ kami kuatir tidak ada yang tertarik mau beli” ujar Emi, pengurus pasar desa. Hanya berselang 30 menit saat gelaran hasil bumi dilgelar, pembeli berdatangan khususnya dari desa lain. Dua jam kemudian, para pembeli dari desa berdatangan. Senyum mengembang hingga tertawa senang mulai terdengar di antara para ibu. “Biasanya hasil bumi ini busuk di kebun atau di rumah, bahkan dibagi sama tetangga juga tidak habis” dengan sumringah ibu Yenny bercerita. Beberapa bergegas untuk bisa mengambil hasil bumi lainnya . “ Saya punya rempah daun, punya pepaya, punya pisang dan selada air, saya tadi ragu mau mengambilnya, sekarang tolong ibu tunggu ya, saya akan ambil “ kata seorang ibu pada saya dan calon pembeli lainnya sambil bergegas memanggil temannya ke kebun yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya. Sementara yang lain tampak tergopoh-gopoh membawa daun lemon dan labu serta ketela ubi.

Di Pasar desa, sistem yang dikembangkan sederhana, setiap ibu di desa membawa bahan-bahan yang akan dijual dari kebun atau halaman rumah masing-masing . Jika hasil bumi yang dijual tidak laku hari itu, mereka akan saling barter satu sama lain. “Nanti kalau sayur selada air tidak habis, saya tukar dengan labu, boleh?” mereka mulai saling merencanakan sambil tetap berharap jualan mereka bisa tetap laku dari pembeli lainnya. Semua hasil bumi yang dibawa dan yang dijual tercatat untuk menjadi bagian dari analisis ibu-ibu tentang kebutuhan hasil bumi oleh masyarakat di sekitarnya. Pasar dijaga secara bergantian oleh ibu-ibu, agar aktivitas lain di kebun dan di rumah bisa tetap dilakukan, sehingga meskipun tidak sempat menjaga pasar, hasil bumi mereka bisa tetap dijual.

Melihat proses dan bercakap dengan mereka adalah sebuah proses yang kaya bagi saya. Proses yang memastikan bahwa bersama dengan perempuan di desa adalah sebuah keniscayaan untuk menjaga tanah. Karena mimpi mereka adalah menjaga tanah dan mengelola sumber daya alam untuk kehidupan bersama. Tidak ada lagi tanah yang dijual, para pemuda tetap di kampung/pulang ke kampung untuk mengembangkannya. Bagi saya, mereka merebut kembali desa untuk kehidupan masyarakat.

Kami baru mengadakan satu kali pertemuan kelas sekolah perempuan di Desa Salukaia, semangat para ibu sungguh luar biasa , langsung bergabung dengan tim Anak, tim Media, tim Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak.

Inisiasi pasar desa ini juga sudah dibuka oleh anggota sekolah perempuan di Desa Bancea , Desa Didiri, dan Desa Tiu. Para kawan yang berada di sekitar desa ini atau melewati desa ini, jangan ragu mendukung mereka dengan membeli. Ohya, ini organik . Beberapa sayuran baru dipetik ketika kami tiba. Sangat berharap desa-desa lain memulai hal yang sama.

Mari bersama para petani dan nelayan di desa !

Untuk alasan ini ( salah satunya ), saya dan banyak perempuan di Poso dari desa ada bersama-sama dengan Petani Kendeng yang melawan ketidakadilan dan berjuang untuk tanah.

%d blogger menyukai ini: