fadillah-putra-staf-ahli-dirjen-pembangunan-dan-pemberdayaan-masyarakat-desa-kementerian-desa

Pemanfaatan internet mulai marak di wilayah perdesaan, termasuk kampung-kampung di Papua. Uniknya, masyarakat kampung menunjukkan kecerdasan kebudayaan dalam memanfaatkan teknologi ini. Meski sebagian besar kampung belum mendapat layanan infrastruktur telekomunikasi yang baik, mereka mulai memanfaatkan internet untuk mengelola sumberdaya di wilayah menjadi produk unggulan desa.

Demikian pendapat Fadillah Putra, Staf Ahli Direktorat Jendral Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Selasa (25/10).

Menurutnya, keterbatasan infrastruktur bukan menjadi penghalang utama, sebaliknya masyarakat kampung mampu mengubahnya menjadi peluang. Mereka ceritakan situasi dan kendala tersebut untuk menarik pelbagai sumberdaya dari luar desa.

“Saya bertemu dengan masyarakat kampung di Papua. Mereka cerita tidak ada infrastruktur telekomunikasi di kampungnya, bahkan listrik saja tidak ada. Dampaknya, semakin banyak pihak ingin ikut menyelesaikan masalah secara bersama-sama,” ujarnya.

Fadil mengaku terkejut karena sejumlah kampung sudah memiliki website resmi. Puluhan kampung di Kabupaten Jayapura sudah memanfaatkan website untuk berbagi situasi dan kondisi di sana. Program ini dipelopori oleh para ketua kampung dan anak muda dari kabupaten setempat.

Secara rutin dalam periode tertentu masyarakat kampung pergi ke kota kabupaten. Mereka menjual produk dari kampung, biasanya medicineoffer.com hasil bumi ke kota. Pulangnya, mereka membawa kebutuhan yang hanya bisa didapatkan di kota. Selain ke kota, masyarakat kampung mulai memasarkan produk mereka melalui internet.

“Ternyata, saat di kota kabupaten itulah mereka mengunggah konten ke website. Isinya ya kondisi dan situasi kampung,” lanjut Alumnus Doktoral Kebijakan Publik Universitas Melbourne Australia itu .

Pemanfaatan internet di kampung dapat berhasil karena orang kampung memiliki kemauan yang kuat. Kemauan kuat itu lahir dari nilai, tradisi, dan kebudayaan asli mereka.

“Negara harus melihat hal ini sebagai aset sosial yang dihormati dan hargai,” pungkas staf pengajar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya ini.

%d blogger menyukai ini: