Masih sedikit pemimpin di desa yang memiliki segudang gagasan, memiliki keberpihakan terhadap masyarakat, berani mengambil keputusan yang tidak populer, kritis terhadap kebijakan supra desa serta memiliki jiwa pemberdayaan.

IMG-20170412-WA0024

Foto bersama Kepala Desa, Pembina Desa dan Aparat Desa di meja batu potensi unggulan Desa Tanjungsari

Tasrip lebih dikenal Balagawa Ruampes adalah inspirator dari beberapa sosok Kepala Desa yang memiliki kepemimpinan “inovatif dan progresif” dia memiliki kesadaran bahwa mengelola kekuasaan untuk kepentingan masyarakat banyak. Banyak gagasan dan perubahan yang telah dilakukan dengan membangun Sekolah Desa “Sadesa” sebagai ruang partisipasi warga desa, meningkatkan kualitas pelayanan aparat desa dengan Sumber Daya Pemuda, membangun transparansi dan akuntabilitas tata kelola desa, dan banyak lagi.

Desa Tanjungsari dibawah kepemimpinan Tasrip membangun jejaring dengan berbagai pihak dalam memperkuat pengelolaan sumber daya desanya. Sekolah Desa “Sadesa” adalah sebuah upaya sekaligus ruang penggalian gagasan, aspirasi, sosialiasasi serta kaderisasi sebagai wujud implementasi Nawa Cita bahwa Negara hadir di masyarakat melalui peran dan fungsi Kepala Desa yang senantiasa ada dan mengisi ruang-ruang kosong di masyarakat. Sehingga seorang Kepala Desa haruslah Inklusif “bisa kabala jeung kabale” demikian tutur Tasrip Kepala Desa Tanjungsari Kecamatan Sukahaji Majalengka.

Kaderisasi yang lahir dari Sekolah Desa “Sadesa” telah mendorong minat generasi muda ke Desa, terbukti Tasrip telah mengangkat pejabat aparatur di pemerintah desa dari generasi muda, termasuk RT-RW. Sekolah Desa “Sadesa” menjadi Sekolah Kepemimpinan Lokal.

Pada kunjungan studi Arief Setiabudhi Tenaga Ahli Kemendesa, PDTT (12/04/2017) ke Desa Tanjungsari, beliau memantik berbagai gagasan untuk membuka kembali kesadaran kolektif warga desa terhadap sumber daya desa, beliau sampaikan saat ini produk kota bertebaran di Desa, dan orang Desa bertebaran di kota, upaya yang harus dilakukan adalah membangun “industrialisasi” di Desa agar hasil potensi desa bisa menjadi produk yang memilkiki nilai tambah, sehingga produk desa bisa menyebar ke kota tidak lagi berwujud bahan mentah. Sehingga diharapkan produk desa ke kota bukannya pindah orang desa ke kota.

IMG-20170412-WA0048

Rumah Pohon salah satu Destinasi wisata Desa Tanjungsari, Tempat wisata kekinian

Industrialisasi di Desa dibangun dengan mengoptimalkan teknologi-teknologi sederhana atau Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dapat dikembangkan melalui forum warga yang peduli dengan teknologi desa yang disebut Posyantek (Pos Pelayanan Teknologi). Posyantek membuka seluas-luasnya ruang kreativitas-inovasi masyarakat desa untuk menemukenali dan mengembangkan teknologi-teknologi sederhana. Selanjutnya Arief Setiabudhi menuturkan pengalaman baik Posyantek di Kecamatan Cimaung, perkembangan posyantek disana berkembang dengan di bangun Bengkel Rekayasa Industri Skala Desa (Barikade), melalui Bengkel ini warga desa yang memiliki ketertarikan dalam rekayasa teknik bisa mengembangkan bakat dan belajar untuk menjawab persoalan meningkatkan nilai tambah atas potensi desa seperti hasil kebun, sawah, hutan, sungai atau pun potensi lainnya.

FB_IMG_1492132548126

Kebun Bibit sebaga pasar sentra bibit di Desa Tanjungsari sekaligus tempat Eduwisata

Sekolah Desa “Sadesa” diharapkan melahirkan gagasan produktif dan dapat diimplementasikan untuk kesehahteraan masyarakat, tutur Tasrip. Sehingga saat ini Desa Tanjungsari sedang mengembangkan pusat aktivitas sekaligus menjadi sarana eduwisata dengan memanfaatkan kebun bibit yang di design sebagai tempat wisata dengan menyediakan arena selfie seperti rumah pohon, kolam mini, dan saung-saung yang akan dijadikan sebagai tempat pertemuan yang dilengkapi keragaman kuliner kampung seperti “pedesan entog” imbuhnya.

Kawasan pembibitan menjadi pasar sentra bibit dan buah-buahan sekaligus rest area, karena dilalui jalur transportasi cukup ramai antar kota dan propinsi.

 

 

%d blogger menyukai ini: