Sementara para ‘Yang Mulia’ di Jakarta dan daerah banyak yang berperilaku hina dan menghianati rakyat, banyak pemerintah desa yang bekerja dan bertindak mulia dalam memanfaatkan dana desa sebaik-baiknya untuk memajukan warga dan desanya.

Salah satunya adalah Desa Cibogo di Kab. Pangandaran, Jabar..

Sumber: KOMPAS 4 Oktober 2017 – hal. 23

Ahmad Novianto (warga, lulusan SMA) “Kemarin, saya bicara dalam bahasa Inggris lewat video call dengan orang Pakistan.
Mulai dari saling kenal hingga memperkenalkan keunikan negara masing-masing. Semoga ini jadi bekal melanjutkan
kuliah tahun depan,”

Ringkasan
Hingga dua tahun lalu, Desa Cibogo, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, terbilang tertinggal. Namun, desa yang berada sekitar 150 kilometer dari Kota Bandung itu kini telah menjadi salah satu yang terbaik di Jawa Barat.

Sebelum disapa internet, Desa Cibogo nyaris tidak menarik. Pilihan bekerja di daerah perbatasan Ciamis dan
Pangandaran ini sangat terbatas. Sebagian besar warga adalah petani gurem. Jika ingin berhasil, merantau ke Jakarta hingga Malaysia jadi jalan pintas.

DULU DILUPAKAN, KINI JADI CONTOH

Hingga dua tahun lalu, Desa Cibogo, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, terbilang tertinggal. Namun, desa yang berada sekitar 150 kilometer dari Kota Bandung itu kini telah menjadi salah satu yang terbaik di Jawa Barat.

Hujan datang lagi, Minggu (24/9). Dingin pun mulai membalut Cibogo meski baru pukul 11.30. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat beberapa remaja setempat menambah ilmu di teras aula kantor desa.

Salah satunya adalah Ahmad Novianto (18). Remaja kampung Cibereum ini baru saja lulus SMA Negeri 1 Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Dia tidak langsung melanjutkan ke bangku kuliah, tetapi memilih mengumpulkan bekal ilmu. Salah satunya memperdalam bahasa Inggris di beranda aula, hampir setiap hari.

Gurunya tak terlihat. Berbekal telepon pintar buatan China, dia belajar lewat internet. Melalui koneksi Wi-Fi di aula kantor desa, Ahmad mengunduh film tanpa teks bahasa Indonesia hingga praktik bicara dengan orang di luar negeri.
“Kemarin, saya bicara dalam bahasa Inggris lewat video call dengan orang Pakistan. Mulai dari saling kenal hingga memperkenalkan keunikan negara masing-masing. Semoga ini jadi bekal melanjutkan kuliah tahun depan,” katanya.

Saat Ahmad dan anak muda lainnya asyik mengunduh beberapa film dan tutorial bahasa, Kepala Kampung Cibeureum. Sarmin datang dari mushala, di samping aula. Dia baru selesai sembahyang. Bahkan, ia sempat memeriksa laman
yang dibuka anak-anak muda itu.

“Kebetulan hari ini saya jadi pengawas mencegah mereka membuka situs negatif bertema radikal atau pornografi.
Sejauh ini, internet masih digunakan untuk kepentingan yang benar, salah satunya jadi referensi menyelesaikan tugas pelajaran di sekolah,” kata Sarmin.

Inisiatif Sebelum disapa internet, Desa Cibogo nyaris tidak menarik. Pilihan bekerja di daerah perbatasan Ciamis dan Pangandaran ini sangat terbatas. Sebagian besar warga adalah petani gurem. Jika ingin berhasil, merantau ke Jakarta hingga Malaysia jadi jalan pintas. Sejahtera tak didapat di rantau, nasib pun tak pasti di tanah kelahiran.

Keinginan berubah muncul saat Kepala Desa Cibogo Ayim Karsim mengusulkan pemasangan akses internet gratis tahun 2015. Ide itu disambut baik oleh warga, jaringan internet pun muncul setahun kemudian. Dananya Rp 27 juta
diambil dari dana desa. Total dana desa di daerah yang dihuni 3.023 jiwa tahun 2016 itu sebesar Rp 818 juta.

Ayim mengatakan, internet memberi banyak manfaat. Salah satunya, memudahkan pembuatan dan pelaporan berkas ke tingkat kecamatan atau Pemkab Pangandaran. Jarak Cibogo menuju pusat kota Pangandaran, yang biasanya ditempuh selama 1,5 jam, bisa dipangkas hanya beberapa menit lewat akses internet. “Cara ini juga mendorong kami lebih jujur dan transparan,” katanya.

Tak hanya aparat desa, warga juga menikmati hasilnya. Semula hanya petani gurem minim pengetahuan dan pengembangan teknologi, kini sebagian warga tumbuh jadi petani tangguh.

Salah seorang petani Cibogo yang memanfaatkan keunggulan teknologi itu adalah Rohimat Resdiana (31). Internet meringankan pekerjaannya. Salah satunya ketika mengajukan pupuk bersubsidi. “Jika sebelumnya pengisian rencana definitif kebutuhan kelompok dilakukan manual dan makan waktu, sekarang formulirnya cukup diisi secara daring dan dikirimkan melalui surel,” kata Rohimat yang memiliki sawah 4.200 meter persegi.

Proses pengajuan kartu tani, kata Rohimat, juga lebih praktis. Kartu tani ini dibutuhkan petani mengakses perbankan, bulog, ataupun BUMN bidang pertanian. Sebelumnya, ia kesulitan memperoleh kartu ini karena harus mengisi data
dasar di Kementerian Pertanian.

“Dulu saya kesulitan karena buta komputer. Sekarang beda, sudah bisa mengisi data secara daring,” ujarnya.
Bahkan, melalui internet juga Rohimat berani berinovasi. Jika sebelumnya hanya menggunakan varietas logawa, ia lantas mencoba jenis IR 64. “Jenis IR 64 kalau dipanen tidak terlalu lengket dan lebih tahan hawa wereng coklat dan penyakit kerdil rumput,” ujar Rohimat.

Prestasi Rohimat juga menilai, pengetahuan dari internet membuka cakrawala baru. Dia berani mengembangkan usaha
penanaman pisang siam bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cibogo. Tempatnya menggunakan lahan tidur milik desa seluas empat hektar.

“Kami menanam 1.600 bibit pisang siam sejak tahun 2015. Modalnya Rp 4 juta diambil dari dana desa. Ilmu menanam,
memelihara, dan memanen pisang, didapat dari internet,” ujar Rohimat.

Hasilnya tak sia-sia. Didukung kelembapan udara yang cukup tinggi dan cuaca panas, pisang tumbuh subur. Panen terakhir menghasilkan sekitar 12 ton.

Hasil panen dibeli BUMDes Cibogo Rp 800 per kilogram. Uang itu dibagikan kepada enam penggarap pisang setelah dikurangi modal. BUMDes menjual lagi Rp 1.000 per kg kepada perajin pisang selai goreng di Cibogo. BUM-Des memperoleh pendapatan sekitar Rp 12 juta.

Menurut Ayim, untung dan rugi bukan jadi yang utama saat pisang itu ditanam. Budidaya pisang jadi wahana pembelajaran bagi petani sekaligus memudahkan produksi pisang selain yang ada di Cibogo.

“Uang dari penjualan pisang kami gunakan membiayai pembangunan dua jembatan. Saat menyusun biaya pembuatan jembatan itu, kami melakukannya sesuai standar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Lagi-lagi,
kami belajar dari internet,” katanya.

Prestasi itu dilirik Pemerintah Provinsi Jabar. Pada Lomba Desa Tingkat Jabar tahun 2017, Desa Cibogo jadi terbaik ketiga dari 5.132 desa di provinsi itu yang memenuhi syarat. Desa yang dulu terlupakan itu kini jadi contoh pengelolaan
daerah dan dana desa yang baik.

Akan tetapi, Ayin belum ingin berhenti. Ia masih punya banyak mimpi. Salah satunya, memperluas jaringan internet.

Jika kini hanya dinikmati Kampung Cibereum, internet akan masuk ke Kampung Cibogo. Unit usaha lainnya juga tengah dirintis. Salah satunya penggemukan 100 kambing. Ini untuk warga lanjut usia. Mereka akan jadi petugas pencari rumput.

%d blogger menyukai ini: