img_20161129_064113

Kerjasama antardesa perlu dilakukan untuk mengurangi beban kolektif desa. Bila beban kolektif berkurang, maka kesejahteraan masyarakat desa makin meningkat. Kerjasama antardesa dapat dimulai dari pasar desa. Pasar desa bisa memfasilitasi rantai pasok dan distribusi komoditas unggulan desa.

Desa di dataran tinggi memiliki komoditas sayur-mayur yang bermutu. Mereka mampu menyuplai sayuran dalam jumlah besar karena lokasi itu cocok untuk budidaya sayur-mayur. Desa di pesisir mampu mendukung kebutuhan protein dari hasil laut, seperti ikan, kepiting, udang, hingga rumput laut. Mereka mampu menyuplai kebutuhan lauk Pauk dalam jumlah besar ke desa-desa yang tidak memiliki garis pantai.

Semua desa membutuhkan suplai sayur-mayur maupun lauk-pauk yang cukup. Desa-desa dengan tipologi berbeda di atas dapat menjalin kerjasama untuk menjaga rantai pasok dan distribusi komoditas. Pasar desa menjadi titik pertemuan antar komoditas ada di setiap desa.

Selama ini kerjasama antardesa berlangsung secara liberal sesuai dengan hukum pasar. Para pedagang dan pengepul menjadi aktor utama rantai distribusi produk desa. Persaingan antar aktor berlangsung sengit, terutama pada penentuan harga. Acapkali, para petani dan nelayan menjadi korban dalam ruang kompetisi itu. Ada adagiun, gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah.

Badan Usaha Milik Desa (BUM Des) dapat mengambil peran sebagai fasilitator kerjasama antardesa. BUM Des berfungsi sebagai dinamisator dan stabilisator harga produk yang dijual di pasar desa. Kerjasama yang kuat antardesa mampu mengontrol laju inflasi dan deflasi di tingkat desa. Hasilnya, stabilitas moneter di desa sangat kuat.

%d blogger menyukai ini: