Selama ini orang awam mengenal koperasi di tanah air semata sebagai entitas bisnis kecil-kecilan. Seperti simpan pinjam dalam skala mikro dan atau usaha warung kelontong atau semacam usaha kantin kecil-kecilan di pojok kantor. Persepsi mengenai koperasi yang terbentuk sebagai urusan bisnis kecil-kecilan membuat masyarakat terutama anak-anak muda menganggap bisnis koperasi bukan sebagai hal menarik sebagai alternatif berbisnis dan bahkan terkesan kuno.

Buku koperasi skala besar yang diterbitkan ini merupakan upaya penting untuk merombak persepsi masyarakat tersebut. Melalui buku ini, setidaknya masyarakat akan dapat informasi yang seimbang bahwa koperasi itu tidak hanya usaha simpan pinjam dalam skala usaha mikro saja tapi bisa menjadi usaha besar dan meliputi banyak sektor, dimiliki oleh ratusan ribu orang dan mampu menghimpun dana triliunan rupiah.

Masyarakat perlu tahu bahwa usaha koperasi itu cocok bagi semua sektor bisnis dan dapat berkembang secara alamiah menjadi usaha besar sebagaimana sebagiannya disajikan profilnya dalam buku ini. Dalam urusan ekonomi, koperasi sebetulnya tidak ada bedanya dengan entitas bisnis lainya. Namun perbedaan mendasarnya adalah di dalam sistem kepemilikkan dan mekanisme kerjanya.

Koperasi kepemilikannya terbuka bagi setiap orang dan hak suara untuk mengambil kebijakan organisasi dan perusahaan dijamin bekerja dalam jalur demokrasi satu orang satu suara (one person one vote) demi tetap menjaga prinsip keadilan dan kebersamaan. Penting dipahami bahwa koperasi itu bukan hanya semata perusahaan dan watak sosialnya adalah merupakan modal dasar koperasi.

Benar koperasi gunakan instrumen perusahaan, namun perusahaan bagi koperasi hanya sebagai alat bagi setiap orang untuk capai tujuan kesejahteraan bersama. Itu kenapa Mahkamah Konstitusi kita batalkan Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2012 yang definisikan koperasi sebagai semata badan hukum dan atau badan usaha. Ini adalah definisi yang secara epistemologi memang sudah salah.

Dari segi modalitas kelembagaan, koperasi di dunia saat ini sebetulnya sudah mengembangkan model kepemilikkan koperasi lebih mutakhir dengan model koperasi multipihak dan multi sektor. Dimana satu koperasi itu bisa dimiliki oleh para produsennya, pekerjanya dan juga konsumennya sekaligus. Contoh praktek nyata dari koperasi ini adalah koperasi I-COOP di Korea yang dikembangkan oleh para perempuan petani pembaharu. Mereka saat ini bukan saja telah satukan kepentingan petani, pekerja dan konsumen dalam satu lembaga koperasi, tapi mereka telah berhasil perangi mafia pangan dan kembangkan konsep edukasi koperasi untuk berproduksi, bekerja dan berkonsumsi secara etis.

Dalam praktek paling nyata lain misalnya praktek demokrasi di tempat kerja dari Koperasi Mondragon yang tercatat sebagai perusahaan terbesar di Basque, Spanyol dengan jumlah karyawan-pemilik kurang lebih 80.000 orang. Karena koperasi ini dimiliki oleh seluruh pekerjanya dan juga jamin hak suara anggotanya, pengambilan keputusan gaji misalnya, batas rasio gaji manajemen tertinggi sampai dengan karyawan terendahnya dibatasi dalam kebijakan internal sebesar 1 : 6.

Kenapa bisa demikian? Karena setiap pekerja adalah pemilik dan pengendali dari perusahaan. Ini satu konsep beyond dari model kepemilikkan buruh perusahaan konvensional seperti yang diterapkan dalam skema ESOP (employee share ownership plan) atau pembagian sebagian saham perusahaan. Koperasi sebagai entitas bisnis sesungguhnya sungguh modern dan futuristik dan ini hal penting yang harus di promosikan di tanah air agar cita-cita koperasi sebagai sokoguru ekonomi dapat segera tercapai.

Menurut laporan International Co-operative Alliance (ICA), hingga saat ini ada 263 anggota organisasi tingkat nasional maupun internasional yang menjadi anggota organisasi gerakan koperasi di tingkat global. Dilaporkan oleh ICA bahwa sekurang-kurangnya koperasi telah berkembang di lebih dari 100 negara dengan lebih dari 1 miliar anggota individu. (lihat pada situs www.ica.coop).

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa kurang lebih 3 miliar orang atau separuh dari penduduk dunia mendapatkan layanan mata pencaharian dari perluasan usaha-usaha koperasi. Di Kenya menyumbang PDB (Produk Domestik Bruto) sebesar 45 %, di New Zealand 22% dari PDB, di Perancis beberapa bank koperasi seperti Credit Mutuel, Banque Populaire, Credit Agricole menjadi bank-bank besar tingkat dunia, di Switzerland koperasi konsumen Migros dan Suisse menguasai 90% perdagangan ritail disana. Di Columbia menguasai 24% dari jasa kesehatan dan menyediakan pekerjaan yang luas bagi penduduk, di Sweden memberikan kontribusi 66% dari pusat layanan pribadi sehari-hari. Di Amerika Serikat yang diinisiasi sebagai negara kapitalis, dari 40% penduduk di negara ini adalah anggota koperasi, 13% jasa layanan listrik di Amerika Serikat disediakan oleh Koperasi dan dari 300 koperasi terbaik dunia 36 persennya adalah dari negara ini dengan tampilkan koperasi sebagai perusahaan kelas dunia seperti, Sunkist, Western Union, Ace Hardware dan lain sebagainya. Dilaporkan oleh ICA bahwa 300 koperasi besar dan bisnis secara mutual menghasilkan perputaran bisnis lebih dari US$ 2.597 miliar, lebih besar dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara Spanyol. Dalam urusan lapangan kerja, telah dihasilkan sebanyak 250 juta pekerjaan yang berarti 20% lebih dari yang diciptakan oleh korporasi multinasional. Swiss adalah pemberi kontribusi pekerjaan terbesar, Perancis memberi kontribusi bank terbesar, New Zealand adalah pemberi perdagangan susu nomor tiga dunia, di India pemrosesan makanan terbesar, di Belanda sebagai pelayanan jasa kesehatan terbaik, di Amerika Utara sebagai pemimpin pasar jus botol dan kaleng dan di Canada adalah pemberi layanan asuransi terbesar. Ada suatu fenomena yang menarik bahwa dari 10 negara-negara yang disebut sebagai pemilik Global Competitiveness Rangking Index 2016-2017 terbaik oleh World Economic Forum (WEF) adalah negara-negara dimana koperasi disana mampu menunjukkan dirinya sebagai pemberi manfaat-manfaat besar bagi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. Seperti Swiss, Singapore, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Sweden, Inggris, Jepang, Hongkong, Finlandia. Selain itu negara-negara dimana kontribusi koperasinya terhadap PDB lebih besar juga turut membentuk tingkat kesenjangan sosial ekonomi yang rendah. Pengakuan terhadap keberadaan gerakan koperasi juga semakin luas. PBB dalam sidang umumnya akhir tahun 2016 di Afrika Selatan menetapkan bahwa koperasi sebagai “gerakan menolong diri sendiri dengan cara bekerjasama” menjadi salah satu warisan dunia bukan benda (intangible herritage) dan bahkan ekonom penerima penghargaan Nobel Ekonomi, Joseph Stigliz mengatakan bahwa koperasi harus dijadikan usulan bagi alternatif pembangunan yan selama ini didominasi oleh konsep tetesan dari atas (trickle down effect strategy). Ini semakin meyakinkan kita bahwa cita-cita koperasi sebagai sebuah gerakan perubahan sosial, untuk ciptakan dunia yang lebih baik menjadi semakin nyata. Seharusnya atau das sollen-nya koperasi itu sesungguhnya apabila dikembangkan secara alamiah justru dapat menjadi bisnis berskala besar karena fungsinya mengintegrasi usaha-usaha individu. Sebab asas subsidiaritas koperasi itu adalah mengatur apa-apa yang bisa dikerjakan sendiri dikerjakan individu dan apa-apa yang tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri dikerjakan bersama melalui koperasi. Dalam konsep mutakhir, sesungguhnya koperasi itu juga merupakan bussines provider bagi anggota-anggotanya dengan menjadi pendukung bagi berkembangnya usaha-usaha anggota. Kita dapat lihat, dalam kelembagaan koperasi-koperasi besar di dunia saat ini, untuk memperkuat diri dan menjadi countervailing bagi berkembangnya perusahaan konvensional basis modal telah membentuk sebuah usaha holding koperasi yang mengintegrasikan bisnis lintas sektor, bersifat multipihak. Koperasi-koperasi ini tidak hanya menjadi kuat, tapi mereka telah berhasil mencegah munculnya mafia kartel yang selama ini merugikan masyarakat. Sebut saja misalnya SANASA Group di Srilanka, Mondragron Group di Spanyol, Japanasse Agriculture Zen-Noh, dan lain sebagainya. Kesempatan yang sama dan mudah bagi masyarakat secara luas untuk dapat menjadi pemilik perusahaan-perusahaan koperasi telah menjadikan koperasi berperan penting bagi pembangunan. Koperasi telah mampu ciptakan keadilan ekonomi karena koperasi jalankan konsep distribusi pendapatan dan kekayaan secara adil. Koperasi juga ciptakan fundamental ekonomi yang lebih aman karena berorientasi pada pemenuhan kebutuhan ekonomi domestik sebagai yang utama. Secara ekologis koperasi juga sangat berperan karena tidak berikan kesempatan kepada segelintir orang dengan kekuatan modalnya lakukan ekploitasi alam karena semata-mata hanya untuk kejar keuntungan pribadi. Sebagai konsep bisnis yang tak lagi pisahkan secara demargatif antara kepentingan buruh dan pemilik perusahaan juga telah turut ciptakan stabilitas politik. Lebih dari itu, koperasi yang letakkan kekuatan kerja sama, kegotong royongan sebagai hal prinsip telah turut ciptakan perdamaian dan pembangunan yang berkelanjutan. Koperasi adalah konsep ekonomi Pancasilais. Koperasi saat ini dianggap sebagai titik terang dalam mengatasi masalah krisis ekonomi dunia yang sampai saat ini kita rasakan. Koperasi telah diakui oleh banyak pihak sebagai solusi atas kondisi ekonomi stagnan, penurunan upah riil, meningkatnya ketidaksetaraan, penghematan biaya publik yang berlebih lebihan dan kerusakan sosial dan lingkungan. Koperasi telah menunjukkan bahwa produksi dalam skala besar dan sesuai dengan ilmu pengetahuan modern dapat diwujudkan. Hasilnya, sarana kerja tidak perlu dimonopoli sebagai sarana kelas atas, orang tidak perlu bekerja seperti budak di tempat-tempat kerja. Orang-orang mulai percaya bahwa cara koperasi dapat menjadi solusi bagi sistem kapitalisme yang ekploitatif dan selalu mengancam kehidupan orang-orang kecil dalam krisis konjungtural. Buku kumpulan profil koperasi-koperasi besar ini adalah merupakan kabar gembira bagi kita semua. Betapapun dalam penyajiannya masih banyak informasi yang terbatas namun akan cukup baik untuk dapat dijadikan sebagai informasi pendahuluan untuk mengetahui lebih dalam bagaimana koperasi-koperasi ini menjadi besar seperti yang ada saat ini. Bagaimana kinerjanya secara lebih lengkap, bagaimana mereka bekerja dalam menghadirkan manfaat bagi anggotanya, apa kunci keberhasilannya dalam melayani masyarakat. Koperasi besar adalah keniscayaan, tapi besarnya usaha-usaha koperasi semua sangat tergantung dari proses partisipasi masyarakat untuk memanfaatkan model perusahaan futuristik ini bagi kepentingan ekonominya, juga bagi kepentingan untuk ciptakan dunia yang lebih baik.

Jakarta, 5 Oktober 2017

Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)

%d blogger menyukai ini: