penvill-1

Jakarta (17/11/2016). Komitmen membangun kerja kolaboratif antara Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) dan Program Pendampingan Desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sudah mulai rinci. Lewat Tim Konsultan Nasional Pengembangan Program (KNPP) yang dikomandani oleh Arief Setyabudi, mereka tengah merancang model kerja tandem dan sebaran lokasi prioritas untuk 2017.

Sebelumnya, Pendamping Desa dan RTIK telah mendeklarasikan kerja kolaborasi untuk percepatan pemberdayaan desa. Deklarasi dilakukan di Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (27/10) pada kegiatan tahunan diskusi PANDI. diwakili oleh Arbit Manika (Pendamping Desa) dan Fajar Eri Dianto (Relawan TIK).

BACA JUGA: Deklarasi Kerja Kolaborasi Pendamping Desa dan Relawan TIK

Sebagai tindak lanjut, Deklarasi Kasablangka, KNPP Kementerian Desa, berinisiatif menggelar pertemuan lanjutan. Acara berlangsung di Solaria, Pejaten Village, Jakarta Selatan. Pada Kesempatan tersebut hadir Fajar Eri Dianto (Ketua RTIK) dan Tim KNPP yang dipimpin Arief Setyabudi.

“Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa harus fokus pada proses kerja pemberdayaan. Untuk urusan pelaporan harus dibuat sistem yang mudah. Karena itu kita perlu membangun kerja kolaborasi bersama banyak pihak, seperti RTIK yang mengerti sisi teknis sistem TIK,” jelas Arief.

Arief mencontohkan kolaborasi bisa dimulai dengan pengelolaan dan integrasi data desa menjadi informasi menarik. Bisa dalam bentuk infografis atau visual spasial sehingga memudahkan beragam kalangan untuk mngambil keputusan secara cepat.

Pada pertemuan itu, ada sejumlah permasalahan yang dibahas, seperti mengurai pengumpulan informasi desa, baik tentang dana desa, data potensi desa, dan produk unggulan desa. Di tingkat bawah, para pendamping desa mengeluhkan format laporan yang sangat banyak. Selain itu, sejumlah daerah masih terkendala dengan minimnya jaringan internet untuk mengirimkan data atau laporan.

BACA JUGA
: KNPP Rumuskan Sistem Informasi Pendamping Desa

Selanjutnya Fajar Eri Dianto menjelaskan sebaran dan jaringan RTIK di Indonesia. Menurutnya, selama ini RTIK melakukan kerja sosial di sela-sela kesibukan profesi mereka masing-masing. Ada yang bekerja sebagai karyawan, guru, pengusaha atau dosen/mahasiswa.

“Kami bekerja sesuai dengan kapasitas dan waktu kosong masing-masing. Kami senang dapat menyumbangkan kemampuan di bidang TIK pada masyarakat,” ujar Fajar Eri.

Ajakan untuk kerja tandem dengan Pendamping Desa disambut baik oleh seluruh RTIk. Beragam permasalahan dalam implementasi Undang-Undang Desa harus dijawab bersama. RTIK bersedia berbagi peran dalam memberikan penguatan teknologi informasi pada desa.

Pertemuan Pejaten menghasilkan sejumlah langkah operasional teknis untuk menyusun Sistem Informasi Pendampingan Desa.

%d blogger menyukai ini: