Catatan Guru Koperasi Suroto PH

Isu tentang kewirausahaan sosial (social entreprenuership) saat ini mulai banyak dibahas dan dijadikan acuan program oleh berbagai pihak. Terutama setelah Mohamad Yunus berhasil membangun Grameen Bank dan memenangi hadiah Nobel Perdamaian.

Kewirausahaan sosial dikembangkan perusahaan swasta sebagai program tanggungjawab sosial perusahaan (corporate social repsonsibility-CSR) dan setali tiga uang dengan adanya “peluang” tersebut, banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menyusun isu ini dalam program mereka.

Seringkali ada pemahaman yang salah kaprah, kewirausahaan sosial itu identik dengan aktivitas CSR perusahaan. Padahal sebagaimana kita ketahui, kewirausahaan sosial itu adalah merupakan manifestasi inheren dari manajemen perusahaan yang sebetulnya telah membawa “tradisi kolektif” dari sejak perusahaan modern itu ada.

Jurnal ilmiah ilmu manajemen Harvard School sudah mengakui, bahwa wirausahaan sosial itu adalah merupakan genre terbaru dari wirausaha, mengoreksi pemahaman lama tentang wirausaha yang ditulis oleh pakar-pakarnya seperti : pencipta nilai tambah (J.B Say), pencipta inovasi dan agen perubahan (Schumpeter), Pecari peluang(P.Drucker), pengendali sumberdaya (H. Stevenson). Kewirausahaan sosial adalah sebuah aktivitas yang tujuan utamanya adalah mengkreasi nilai-nilai sosial diatas nilai kebiasaan positif bisnis mengejar keuntungan.

Melibatkan perhatian atas kebutuhan baik sosial dan cara untuk menciptakannya, serta inovasi, kemauan untuk menanggung risiko, dan akal dalam menghadapi aset langka. Sosial entreprenuer adalah mereka yang melakukan aktivitas “kewirausahaan” untuk tujuan pencarian nilai kemanusiaan (Dees, 2003, Peredo, 2003).

Jadi jelas bahwa wirausahawan sosial itu tidak hanya bicara bagaimana membangun karitas dalam bisnis seperti yang ada dalam kerangka kerja tanggungjawab sosial perusahaan ataupun sekadar melibatkan masyarakat dalam kegiatan bisnis.

Sebab itu, menurut hemat saya, bisnis dalam perspektif wirausaha sosial adalah tidak dapat dilakukan pemisahan antara bisnis sebagai hal yang bersifat sebagai kepentingan yang privat (res-privat) terhadap kepentingan yang publik (res-publik).

Ada beberapa alasan mendasar kenapa bisnis itu harus bersifat sosial. Diantaranya adalah Kewirausahaan bukan sekadar menciptakan nilai tambah (value added) ekonomi dan mengekplorasi peluang tapi bagaimana dapat mengangkat derajat kemanusiaan menjadi lebih adil.

Bisnis adalah bukan sekadar untuk bisnis itu sendiri (bussines is not just a bussines), tapi bisnis adalah merupakan bagian dari proses perwujudan rasa kemanusiaan secara inheren.

Dimana seluruh kegiatan kewirausahaan membawa tradisi “kolektifitas” dan ini menujukkan bahwa kewirausahaan tidak boleh lepas dari misi sosial. Alasan yang paling mendasar adalah karena bisnis itu adalah sebagai salah satu bentuk pengabdian sosial pada masyarakat.

Sehingga kembali pada konsep awal bisnis yang tak bisa melepaskan tradisi kolektivitasnya maka, bagaimana praktika dari kegiatan kewirausahaan sosial ini sangat tergantung dari kemampuan sebuah bisnis itu untuk mengembangkan tujuan sosialnya.

Perusahaan bisa saja mengadopsi sistem misalnya dengan mengembangkan kepemilikan saham oleh karyawan (employee share ownership plan) seperti yang mulai banyak berkembang di berbagai belahan dunia saat ini atau dengan misalnya membangun model bisnis milik masyarakat yang sama sekali terbuka seperti dalam sistem koperasi misalnya. []Suroto

%d blogger menyukai ini: