?

ADA yang menarik pada pelatihan pra-tugas Pendamping Desa di Sumatera Selatan.  Dari beberapa pokok bahasan modul pelatihan Pendamping Desa tahun 2016, pokok bahasan tujuh tetang pengarusutamaan inklusi sosial cukup berkesan karena isu “inklusi sosial” masih asing di masyarakat desa. Bahkan “inklusi sosial” cenderung bias, sering dipahami sebatas kepedulian kepada penyandang disabilitas atau kaum difabel saja.

Dalam praksis pemberdayaan, ada kenyataan baru. Stigma negatif disandang seseorang atau kelompok karena status sebagai penyandang disabilitas,  anak narapida politik atau eks tapol, status sebagai ras, dan etnis minoritas, usia, jenis kelamin, agama, tempat tinggal terisolasi secara geografis,  status sebagai penyandang kesakitan pengidap HIV-AIDS atau penyakit, dan lainnya.

Hal-hal tersebut seringkali menyebabkan seseorang dan kelompok masyarakat terdiskriminasi, termarginalisasi untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan serta dalam mendapatkan layanan dasar. Bahkan mereka terkucilkan dalam relasinya dengan masyarakat.Kondisi tersebut memicu ketidakberdayaan orang atau masyarakat dengan stigma tersebut sehingga berdampak kesulitan kehidupan yang dihadapi mereka dan jatuhlah pada lubang kemiskinan.

Materi pengarusutamaan inklusi sosial sebagai sebuah strategi pembangunan dan pemberdayaan di desa menjadi sebuah tantangan. Dalam proses pembelajaran, pengarus-utamaan inklusi sosial disajikan dengan studi kasus dan simulasi.  Dari pencermatan, peserta tertarik mulai proses memetakan stakeholder dan membangun komunikasi. Simulasi diawali dari masing-masing peserta diberikan kertas metaplan yang menunjukan label diri.

?

?

Pertama mencirikan status sosial warisan. Misalnya, anak kepala desa, anak penganggur, anak petani, anak buruh, keturunan keraton, keturunan pempimpin adat, dan lain-lain. Untuk selanjutnya peserta membuat barisan sesuai urutan, dimulai dari yang paling berpengaruh/bergengsi sampai yang paling pinggir.

Sesi berikutnya, peserta masuk dengan diberi kertas metaplan untuk label kedua yang mencirikan status berdasar tingkat pendidikan dan keahlian. Misalnya “lulusan Perguruan Tinggi”, “lulusan SD”, “lulusan SMP”, “lulusan SMA”, “penjahit”, “tukang kayu”, “arsitek”, “pemain bola”, dan sebagainya.

Berikutnya setiap peserta memiliki kombinasi dua label. Mereka kembali membentuk formasi barisan sesuai dengan kombinasi label yang diterima. Permainan baris berbaris berbaris belum selesai selanjutnya peserta diberi kertas metaplan sebagai label ketiga yang menggambarkan statusnya saat ini. Misalnya “bapak/ibu rumah tangga”, “aktivis LSM”, “tokoh agama”, “keturunan pemimpin adat”, “keturunan etnik pendatang”, “keturunan etnik pribumi”, dll.

?

?

Dengan kombinasi tiga label yang setiap peserta miliki, minta mereka untuk membentuk barisan dari yang paling berpengaruh sampai yang paling pinggir. Akhir dari simulasi tersebut kemudian dituliskan dalam kertas plano untuk bahan presentasi selanjutnya mendiskusikan hal berikut :

  1. Apa yang menyebabkan seseorang menjadi termarjinalkan secara sosial?
  2. Mengapa setiap satu label ditambahkan, maka formasi kelompok berubah? Apa yang menyebabkan status seseorang berubah?
  3. Apakah ada status yang secara konstan berada di pinggir atau di pusat?

Setelah sesi diskusi akhirnya pelatih Novandri Suhaimi menyampaikan pembulatan dan kesimpulan yaitu; (1) Bagaimana umumnya seseorang diperlakukan secara sosial, keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan, dan dalam mengakses layanan dasar.

(2) Pengertian kelompok marjinal atau kelompok yang terkucil (kelompok tereksklusi) dalam masyarakat beserta contoh-contoh aktual dan berdasar permainan; dan

(3) Pengertian inklusi sosial yakni konsep pendekatan yang memungkinkan seluruh komponen masyarakat, baik yang paling berpengaruh maupun yang paling termarjinalkan berpartisipasi dalam pembangunan.

Menurut salahsatu peserta dari kelas G peserta pelatihan pra-tugas Pendamping Desa Muhammad Yusuf yang bertugas di Musi Rawas Utara materi pada pokok bahasan 7 (tujuh) ini cukup menarik dan memudahkan memahami dari maksud pembelajaran. (Sutardjo-TAU Pengembangan Komunitas Kreatif KNPP)

%d blogger menyukai ini: