Foto: Hakim Madda

Foto: Hakim Madda

Kepala Desa Kalukunangka, Kecamatan Bambaira, Nurdin M merasa tertantang untuk memberdayakan komunitas suku terasing yang berdiam di wilayah desanya. Masyarakat Bunggu yang merupakan penduduk asli Kabupaten Mamuju Utara (Matra), Sulawesi Barat mendiami daerah pegunungan dan lereng-lereng gunung di wilayah pedalaman dan dikenal juga dengan sebutan “manusia pohon”.

“Mereka masih memiliki kebiasaan membangun rumah-rumahnya di atas pohon yang berada di ketinggian 15 sampai dengan 20 meter dari permukaan tanah,” kata Nurdin ketika menerima tim monev dari Provinsi Sulbar untuk penggunaan dana desa, 18 Oktober 2016.

Sebagai kepala desa yang ingin menyejahterakan seluruh warganya, Nurdin tertantang bagaimana bentuk pemberdayaan untuk mereka.

Diskusi pemberdayaan 'manusia pohon' di Kalukunangka

Diskusi pemberdayaan ‘manusia pohon’ di Kalukunangka

Dipaparkannya, sampai 1990-an, Suku Bunggu masih disebut primitif dan terisolir dari akses pembangunan. Kini sebagian memang sudah ada yang berbaur dengan penduduk desa. Untuk ke kawasan permukiman mereka dibutuhkan waktu dua jam jalan kaki dari kantor desa. Jumlah mereka berkisar 50 sampai 100 KK ketika berkumpul di perkampungan yang telah memiliki semacam balai pertemuan.

Suku Bunggu memiliki pola hidup agraris nomaden (peladang berpindah) dekat dengan alam dan berusaha untuk terus menjaga dan melestarikannya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-‘hari, suku ini masih melakukan barter diantara mereka sendiri. Mereka jauh dari kehidupan kota yang serba modern tetapi mereka turut menopang kehidupan masyarakat kota dengan hasil ladang.

Tenaga Ahli (TA) Pengembangan Sosial Dasar (PSD) P3MD Mamuju Utara, Toto, telah mengidentifikasi karakter masyarakat Bunggu yang memiliki budaya dan adat istiadat sendiri, yang mereka pegang teguh secara turun-temurun dan dilaksanakan pada saat upacara ritual adat membuka ladang, panen dan upacara pengobatan seperti pada acara Vunja dan Reego.

Vunja adalah pesta syukuran setelah mereka memanen hasil sawah dan kebunnya. Sementara Reego adalah pesta yang dilaksanakan untuk merayakan hari lahir putra-putri mereka yang telah memasuki usia balita.

Suku Bunggu juga memiliki Vuya Tea, sebuah warisan kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Vuya Tea adalah kain yang terbuat dari kulit kayu. Harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah di pasar mancanegara karena bentuknya unik dan eksotik. Sayang, tradisi membuat kain dari kulit pohon ini semakin langka.

Kini jumlah pembuat Vuya Tea bisa dihitung jari dan berusia lanjut. Tak ada lagi anak muda dari komunitas ini belajar membuat Vuya Tea. Warisan budaya Mamuju Utara ini terancam punah.
Adanya dana desa yang mulai diprioritaskan untuk pemberdayaan masyarakat, Desa Kalukunangka telah mendirikan BUMDes dengan menyertakan modal Rp 20 juta tahun 2016.

“Kami ingin mengembangkan produk VCO karena besarnya potensi kelapa. Tapi untuk SDM dan pemasaran kami perlu bimbingan,” ujar Kades Nurdin.

Untuk pemberdayaan suku terasing, dalam diskusi dengan TA PSD Toto, mulai ditemukan gagasan adanya pemberdayaan “manusia pohon” sebagai pelestarian kearifan lokal adat istiadat yang sakral dan pembuatan pakaian dari kulit kayu untuk menjadi “daya tarik wisata ilmiah” bagi peneliti dan antropolog.

Dana desa dengan demikian juga bisa digunakan untuk program pelestarian tanaman pohon yang kulitnya dijadikan bahan baku pembuatan pakaian adat. Hal ini juga menjadi entri poin untuk menempatkan Desa Kalukunangka sebagai Desa Inklusi karena keberagaman suku dan agama penduduknya.

Kholid Anwar – TAU Politik Pembangunan – KNPP
Foto: Hakim Madda

%d blogger menyukai ini: