dewi-mahmudah-pendamping-desaCita-citaku menjadi Pendamping Desa akhirnya terlaksana. Meski sempat terombang-ambing dalam ketidakpastian usai pengumuman kelulusanku ikuti tes tertulis, pada 25 Oktober hingga 5 November 2016, saya diundang mengikuti pelatihan pratugas Pendamping Desa di Holiday Inn Express, Surabaya.

Saya lahir di Kabupaten Magetan. Saya terobsesi dengan desa akibat pertemuan dengan para pegiat Gerakan Desa Membangun (GDM) yang sebagian besar berprofesi sebagai kepala desa. Bagiku, mereka adalah para pemimpin dan pelayanan rakyat yang mengabdikan diri pada kemajuan desa.

Selama ikuti Pelatihan Pratugas, saya paling menyukai obrolan tentang Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa). Selain itu, saya tertarik pada kebijakan anggaran desa melalui topik Pengelolaan Keuangan Desa. Untuk kedua materi itu, saya berani menambah waktu untuk membaca atau berdiskusi dengan para instruktur. Pokoknya, saya harus paham setuntas-tuntasnya.

Selama Pelatihan Pratugas, saya belajar arti pentingnya catatan. Ada seabreg kebijakan yang harus dibaca, sekaligus dikaji, baik peraturan bupati maupun Undang-Undang Desa. Terlebih, ada sejumlah peraturan bupati yang justru menjadi penghambat kreativitas pembangunan desa. Aih, ada sejumlah bupati yang coba mengendalikan desa melalui peraturan bupati. Pembuatan Perbup tidak netral dari kepentingan-kepentingan politik.

Ini medan perjuangan kita, para pendamping desa maupun tenaga ahli kabupaten. Kita dituntut mampu menjembati komunikasi dan tarik-ulur hubungan desa-supradesa. Usai pratugas, saya harus banyak mendengar dan mempelajari urusan desa secara lebih sistematis. Mari berbagi informasi dan pengalaman sesama pendamping desa.

Desa Membangun Indonesia.

%d blogger menyukai ini: