Yossy Suparyo (tengah) bersama Pemerintah Desa Kanekes, Lebak, Banten

Yossy Suparyo (tengah) bersama Pemerintah Desa Kanekes, Lebak, Banten

Masyarakat Baduy dikenal sebagai komunitas tertutup dan anti pembangunan. Mereka hidup dan berkembang mengacu pada pranata adat yang sangat kolot. Namun, semua itu sekadar pelabelan negatif, masyarakat Baduy justru mampu membangun identitas, jati diri, dan tatanan masyarakat, termasuk tata ruang desa secara mandiri.

Pada 4-6 November 2016, saya berkesempatan berkunjung ke Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa Kanekes merupakan desa yang menjadi salah satu Kampung Baduy. Masyarakat Baduy memiliki 65 kampung, terdiri dari 62 kampung Baduy Luar dan 3 kampung Baduy Dalam.

Pada kunjungan ini, saya bertemu dan berdiskusi dengan warga Baduy Luar maupun Baduy Dalam. Jaro Saija adalah salah satu warga Baduy yang menjadi Kepala Desa Kanekes. Uniknya, Jaro Saija menyandang dua jabatan, yaitu Kepala Desa dan Jabatan Adat yang berfungsi untuk berkomunikasi dengan publik. Penampilannya sederhana, celana pendek, baju hitam, dan ikat biru-hitam khas Baduy.

Obrolan dengan Jaro Saija sangat hangat. Terlebih, saya sudah bertemu dengan pemimpin hebat ini di Desa Dermaji, Lumbir, Banyumas sekitar dua bulan sebelumnya. Obrolan berlangsung di beranda rumah adat yang khusus dibangun warga untuk rumah dinas para pemimpin mereka. Di sela-sela obrolan itu, warga Baduy hilir mudik.

Mereka selalu menyapa dan berjabat tangan dengan para tamu. Tak jarang dari mereka yang menyempatkan untuk menemani duduk para tamu sembari berbasa-basi. Dari raut mukanya terlihat mereka ingin menunjukkan rasa penghormatan dan persahabatan. Bahkan, mereka mau menemani para tamu yang ingin berjalan-jalan sembari menjawab semua pertanyaan yang diajukan tamu.

Tata ruang perdesaan di masyarakat Baduy tertata apik. Arsitektur rumah dibuat seragam, yaitu rumah panggung. Antar rumah ada jalan setapak selebar 1,5 meter yang menjadi jalan raya desa.

Jalanan di sana tak perlu lebar karena semua warga berjalan kali, pranata adat mereka tak mengizinkan penggunaan kendaraan apapun. Tak heran, postur tubuh masyarakat Baduy rata-rata kekar. Hal itu terbentuk secara alami akibat tradisi Baduy yang mengharuskan warganya selalu olah tubuh.

Dalam membangun perkampungan masyarakat Baduy tidak menggunakan bahan bangunan modern. Jalan-jalan berupa batu yang ditata dengan rapi, bahan bangunan hanya terbuat dari kayu, bambu, dan atap rumbia.

Namun, perkampungan itu jauh dari kata kumuh. Setiap saat masyarakat Baduy menyapu rumah dan lingkungannya secara rutin. Tempat sampah juga tersedia di mana-mana sehingga memudahkan siapapun untuk membuang sampah di tempatnya.

Bagiku, Baduy adalah surga kecil di muka bumi. Mereka memiliki peradaban yang adiluhung dan mampu mendidik masyarakatnya untuk hidup secara harmoni dengan alam. Harmoni manusia-alam melahirkan generasi Baduy yang menghargai lingkungan secara lestari.

Meski kunjungan sangat singkat, masyarakat Baduy telah mengajarkan tata ruang desa secara holistik. Satu pranata masyarakat asli Indonesia yang dibangun di atas nilai kekerabatan, kekeluargaan, gotong-royong, dan keadilan sosial. Di sini, rasa nasionalisme saya seperti dikukuhkan kembali sebagai orang Indonesia.

%d blogger menyukai ini: