H. Anton Sukarna Ketua Alumni Fakultas Peternakan IPB

Batik ternyata bukan sekedar perupa atau motif estetika dalam berpakaian, Batik mencirikan identitas dan wujud kekayaan bangsa Indonesia. ​Seni yang ditukilkan bukan sekedar keindahan gambar. Proses membuat batik adalah sebuah nilai seni tersendiri.

Alumni Fakultas Peternakan IPB pada tanggal 15 Januari 2016, melakukan kunjungan belajar ke komunitas Oemah Sawah yang berada di dusun Gempol, Desa Ngesrepbalong, Kec. Limbangan, Kabupaten Kendal. Oemah Sawah sekolah inspiratif di lereng Medini kaki gunung Ungaran, kesejukannya membawa dalam kejernihan pikir, hingga menuntun keikhlasan untuk berbuat.

Oemah Sawah Komunitas Kreatif di Lereng Gunung Ungaran Kabupaten Kendal

Oemah Sawah memiliki beragam aktivitas sosial dengan mengembangkan literasi dan edukasi bagi masyarakat desa. Komunitas Oemah Sawah berjejaring dengan beberapa perguruan tinggi dan LSM/NGO di 20 Negara. Bersama jejaring kelembagaannya Oemah Sawah melakukan kegiatan berupa :

  • Pendidikan anak-anak (seni, budaya, pelajaran sekolah, membatik, weekend creative Learning,dll);
  • Konservasi alam, melalui pembibitan tanaman untuk hutan, pengembangan jaringan relawan konservasi gunung Ungaran;
  • Pentas Seni dan Budaya;
  • Dan Lain- lain

Pada prinsipnya Oemah Sawah adalah rumah tempat belajar bersama yang inklusif tanpa membeda-bedakan ras, agama,dll. Oemah Sawah tempat ‘Sinau Bareng’ belajar mengembangkan potensi dan saling berbagi. 

Simon ‘mas Simun’ seolah menyentil pikiran kami, hingga tersadar pada pemahaman lebih jauh tentang keterintegrasian pertanian, lingkungan, seni budaya, gerakan literasi, dan olah ekonomi kreatif. Oemah Sawah tempat belajar tentang spirit berbagi melalui penyelenggaraan pelatihan dan sekolah melukis, membatik, berkebun, menulis, berkisah, mendongeng, dan bermain.

Pada kesempatan ini, selain belajar menemukenali bahan-bahan pewarna alami batik dan proses pembuatan batik. Simon yang akrab dipanggil mas Simun, menekankan bahwa Batik yang saat ini berkembang mendunia dengan berbagai teknologi yang dikembangkan, seyogyanya masyarakat ‘bangsa Indonesia’ harus mengetahui bahwa batik bukan sekedar motif tapi memiliki nilai yang unik yang harus dipahami serta dipertahankan menjadi tradisi bangsa. 

Selanjutnya Simon menuturkan bahwa definisi batik adalah perentang/ pembatas warna dengan lilin, sehingga inilah pakem dasar batik Indonesia. Tidak semua pakaian atau kain dengan motif batik itu adalah batik, ujar Simon.

Motif batik didesign berdasarkan nilai-nilai lokalita yang berkembang di daerah yang ada di Indonesia, itulah yang melahirkan motif batik Indonesia. Kekuatan dan keunikan batik tidak saja nampak dari lukisan/gambar tetapi nilai philosofi yang bersumber dari inspirasi kehidupan budaya masyarakat. Karenanya Simon ‘mas Simun’ sedang mengembangkan motif gempol, motif banyu mili sebagai salah satu branded batik kendal.

Para Alumni Peternakan IPB yang mengikuti kunjungan belajar ke Pondok Batik Komunitas Oemah Sawah, telah menemukan kembali kekuatan literasi terkait pewarna alami, menurut Edi Risyanto seorang penggiat pertanian organik dari Indramayu, jenis tanaman yang digunakan dalam proses pewarnaan batik masih banyak untuk diekplorasi dan dikembangkan dengan teknologi pengelolaan sederhana, sehingga mudah diterapkan dimasyarakat. Di Fakultas Peternakan IPB jenis-jenis tanaman tersebut dikembangkan dan dilakukan riset secara terus menerus, tidak saja untuk pakan ternak tetapi untuk pengembangan biofarmaka, dll.

Beberapa tanaman yang digunakan sebagai bahan pewarna alami untuk pewarnaan batik, di pondok batik Oemah Sawah yaitu sebagai berikut:

  1. Puksa Orela, tanaman ini dikreasikan untuk menciptskan warna oranya sampai kecoklatan
  2. Biji Klerak yang digunakan untuk mencuci batik.
  3. Bawang Dayak untuk memberi warna merah sampai pink
  4. Tanaman Indigofera berupa tanaman perdu setelah melalui proses fermentasi dan oksidasi dapat menjadi pewarna yaitu warna biru hingga hijau toska
  5. Kulit Kayu bakau dan Kayu mahoni bagian tengah sebagai bahan untuk warna coklat dan coklat muda
  6. Biji Joho bahan pewarna kemerahan

Biji Klerak sebagai bahan pencuci batik

Bawang Dayak

Kulit batang bakau bagian tengah

Biji joho

Lilin dari pohon pinus

Bersambung…..

Stj – Mang ojo

%d blogger menyukai ini: